Skip to main content

TUGAS AKHIR PPKN KELAS 10 SMA KHARISMA BANGSA

Tema : Kapitalisme kikis habis kesadaran sebagai bangsa.

Nama : Achsel Ahmadshah
Kelas : 10 Stanford

Pada dewasa ini, kita hidup di tengah globalisasi yang berjalan secara masif tanpa henti setiap detiknya. Melalui globalisasi, terjadinya pertukaran barang, jasa, juga buah hasil pemikiran dari satu negara ke negara lainnya dengan lancar dan tanpa hambatan. Berbicara mengenai pertukaran pemikiran manusia di era globalisasi saat ini, sudah sewajarnya jika terjadi perkembangan pemikiran yang berasal dari luar di tengah masyarakat Indonesia, mau itu sesuai ataupun tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila sebagai pedoman kehidupan negara Indonesia, sebut saja dua sistem pemikiran besar di dunia saat ini yakni kapitalisme dan sosialisme. Diantara dua produk pemikiran tersebut, kapitalisme sepertinya yang memiliki pengaruh lebih luas dibandingkan sosialisme di masyarakat kita saat ini, keberlangsungannya makin kuat tahun ke tahun, hingga masuk ke sisi-sisi terkecil kehidupan masyarakat Indonesia.

 

Sebelum lanjut membahas sistem ini lebih jauh, alangkah baiknya kita mengetahui definisi dan konsep dasarnya terlebih dahulu. Sebenarnya, banyak ragam definisi kapitalisme oleh para tokoh yang berbeda, salah satunya Adam Smith yang mengatakan bahwa kapitalisme adalah  sebuah sistem ekonomi bercirikan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, distribusi dan pemanfaatan untuk mencapai laba dalam kondisi yang kompetitif. Melalui sistem ini timbul rasa kompetisi yang sangat kuat di masing-masing pihak untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa batas. Sehingga timbulnya kharakter kompetitif yang ambisius tersebut mempengaruhi aspek-aspek kehidupan lainnya, seperti sosial budaya, politik, dan tentunya ekonomi.

 

Setiap sistem pemikiran memiliki nilai baik dan buruknya, begitu juga dengan kapitalisme. Melihat sisi positif kapitalisme adalah mendorong aktifitas ekonomi secara signifikan,  persaingan bebas akan mewujudkan produksi dan harga ketingkat wajar dan rasional dan mendorong motifasi pelaku ekonoki mencapai presentasi terbaik. Tetapi, adanya sikap positif tersebut belum tentu kita bisa menerima sistem kepitalisme mentah-mentah tanpa melihat sisi negatifnya. Sisi negatif kapitalisma yang patut kita perhatikan adalah akan terjadi penumpukan harta, akan menimbulkan sifat individualisme yang berlebihan, kurangnya sifat kerja sama antar sesama masyarakat.

 

Seiring berjalannya waktu, dampak negatif ini lah yang sering kita temui, rasakan, dan berkembang di sekitar kita. Tak mengherankan, contohnya saja sikap individualisme yang makin meningkat pada masing-masing pihak yang justru semakin menghilangnya budaya gotong-royong, sebuah hal yang kita ketahui adalah salah satu nilai leluhur bangsa Indonesia. Salah satu bukti yang jelas tampak sebagai peningkatan rasa individualisme adalah munculnya gated community alias komunitas bersekat, artinya komunitas yang ditandai dengan pemukiman yang memiliki pagar yang tinggi di setiap rumah, hal ini tentu menggambarkan sudah hilangnya rasa kepercayaan masyarakat satu dengan masyarakat lainnya dalam satu lingkungan, hasilnya akan timbul sikap ‘bodo amat’ dan ‘ora urus’ dengan tetangga sekitar. Padahal, nenek moyang kita telah mengajarkan untuk selalu membantu sesama, bertenggang rasa, dan berinteraksi dengan para tetangga, sebaliknya tindakan kepedulian dengan tetangga seperti membagikan makanan yang dimasak berlebih, bekerja sama membersihkan lingkungaN, silaturrahmi, dll sudah semakin luntur. Itulah dampak negatif yang biasa kita jumpai pada gated community yang menjurus kepada individualisme.

 

Dampak negatif selanjutnya adalah penumpukan harta, seperti kita tahu, pada dewasa ini taraf ekonomi menentukan strata seseorang ditengah masyarakat, juga dengan taraf ekonomi yang berkecukupan dapat memenuhi segala aspek kebutuhan dan keinginan. Sehingga tak heran, pada zaman sekarang, banyak pihak yang menghalalkan berbagai cara untuk meraih banyak uang demi pemenuhan gaya hidup kelas tinggi, keinginan yang tak akan pernah padam, malah tak jarang nilai kebutuhan sebenarnya jauh dibawah nilai keinginan itu sendiri. Tidak mengherankan jika orang-orang disekitar kita semakin rakus, tidak puas, kikir, dan pelit. Ditengah butanya untuk menggapai materi dengan jumlah yang besar, mereka tidak menyadari sebagian persen dari harta mereka adalah sepatutnya diperuntukkan orang lain yang kurang beruntung secara ekonomi. Ini sudah diajarkan oleh agama dan kepercayaan apapun untuk sering berbagi melalui donasi, zakat, sadakah, sumbangan, dll.

Kesimpulannya, sebagai masyarakat Indonesia yang telah dibekali pedoman hidup secara turun temurun dari leluhurnya, sepatutnya menyaring baik-baik ‘produk’ luar yang masuk ke dalam negara kita melalui globalisasi. Hal ini termasuk juga pertukaran pola pikir antar manusia di dunia ini. Indonesia adalah negara yang berdiri diatas nilai dan moral kebudayaan terpuji, sekali masyarakat kita gagal melakukan infiltrasi terhadap sesuatu asing yang masuk, maka beresiko hilangnya kharakter asli bangsa Indonesia yang tinggi pancasilais. Hilangnya pengaruh pancasila di kehidupan kita sama saja menenggelamkan nama Indonesia itu sendiri.

Comments